roeneveld betawi,beautiful indonesia
Kondisi reruntuhan roeneveld kini setelah terbakar pada 1985

April 2017, genap 101 perlawanan Entong Gendut terhadap kesewenangan tuan tanah partikulir yang dibantu Kompeni Belanda. Muhammad Yulius dalam bukunya Prahara Tanah Tjondet (2014) menulis perlawanan Entong Gendut pada April 1916 merupakan bentuk heroisme dalam membela kaum tani yang diperlakukan sewenang-wenang.

 

Perlawanan Entong Gendut  ini menurut Yusril Ihza Mahendra dalam sambutannya saat pelantikan DPP Rumpun Masyarakat Betawi (20/3/2016) merupakan sebuah gerakan sejarah yang bertujuan menegakkan keadilan bagi kaum tani Betawi yang diperlakukan sewenang-wenang.

Hal senada juga ditegaskan oleh Ketua Umum RMB, Nur Ali SH. Menurutnya, Satu Abad perlawanan Entong Gendut dapat menginspirasi orang Betawi untuk bangkit. Keberaniannya melawan kesewenang-wenagan tuan tanah yang dibantu kompeni Belanda menjadi spirit orang Betawi untuk berani menegakkan keadilan.

 

Condet, April 1916

Orang Betawi Condet memang terkenal adatnya yang keras, mungkin memang sudah diwariskan dari leluhurnya yang menurut catatan sejarah adalah orang-orang bui-an Belanda, seperti para pejuang Laskar Banten pimpinan Pangeran Purbaya, dan orang-orang Makassar pengikut Dato Tonggara atau Kapitan Daeng Matara.

Di abad ke- 17 orang Belanda menyebut Condet dengan sebutan Groeneveld, yang berarti Tanah Hijau. Pada waktu itu Condet termasuk bagian dari tanah partikulir Tandjong Oost atau Tanjung Timur milik Peter Van Der Velde asal Amersfoort (De Haan 1910:50). Peter Van Der Velde merasa perlu untuk membangun sebuah bangunan besar di Condet, bangunan itupun dinamai serupa, yakni Gedung Groeneveld.

Tandjong Oost mengalami masa kejayaan ketika dikuasai oleh Daniel Cornelius Helvetius van Riemsdijk yang berusaha menggalakkan pertanian dan peternakan. Setelah ia meninggal pada tahun 1860, Groeneveld menjadi milik putrinya yang bernama, Dina Cornelia, yang menikah dengan Tjalling Ament, asal Kota Dokkum, Belanda Utara. Ament melanjutkan usaha mertuanya, meningkatkan usaha pertanian dan peternakan.

Pertengahan abad ke-19, di kawasan Tanjung Oost dipelihara lebih dari 6000 ekor sapi, produksi susunya sangat terkenal di antero Batavia. Sampai tahun 1942 Groeneveld turun–temurun dihuni keturunan Van Riemsdjik, dan kawasan itu yang semula bernama Kampung Asem Baris sampai sekarang disebut Kampung Gedong, mengacu adanya gedung bertingkat dua yang disebut penduduk sekitar sebagai Gedong Tinggi (De Haan 1910:1911: Van Diesen 1989).

Setelah Tjaling Ament dan istrinya meninggal, Groeneveld dikuasai oleh keturunannya. Sebagai tuan tanah yang menguasai Condet, tuan tanah tersebut mengharuskan rakyat Condet membayar pajak. Juru tagihnya para mandor dan centeng tuan tanah.

Setiap minggu rakyat harus membayar blasting atau pajak kompenian sebesar 2,5 sen. Jumlah itu dinilai sangat besar, sebab harga beras ketika itu cuma empat sen per kilogram. Penduduk yang belum membayar blasting diharuskan kerja paksa mencangkul sawah dan kebun milik tuan tanah selama seminggu. Jika para pemilik sawah atau kebun yang belum membayar pajak kompenian, ganjarannya lebih berat.Hasil sawah dan kebun mereka tak boleh dipanen.

Menghadapi kebijakan tuan tanah seperti itu, rakyat Condet masih berusaha sabar. Namun, ketika Asisten Wedana Pasar Rebo bertindak sewenang-wenang terhadap seorang penduduk Condet bernama Taba, kesabaran mereka sampai pada batasnya.Saat itu Asisten Wedana Pasar Rebo mendatangi Taba untuk melakukan eksekusi. Seluruh harta kekayaannya harus ia lego untuk mebayar hutang sebesar f.7,20. Dipimpin Entong Gendut, seorang jawara yang saleh mereka memberontak. Entong Gendut yang pada waktu itu sudah terkenal sebagai jago Betawi mencoba menggagalkan upaya Asisten Wedana itu. Pada tanggal 5 April 1916 Entong Gendut dan anak buahnya membubarkan pertunjukan topeng di rumah Nyonya Van der Vasse Rollinson di Villa Nova di Cililitan. Sementara itu rumah tuan tanah Tanjung Timur D.C. Ament dilempari batu oleh sekelompok penduduk.

Karena keberpihakannya pada petani dalam sekejap pendukungnya semakin bertambah banyak. Pada 9 April 1916 Entong Gendut menawan Asisten Wedana. Aksi-aksinya tersebut menimbulkan keresahan di kalangan penguasa kolonial, termasuk Asisten Residen Jatinegara tentunya. Oleh karena itu pada tanggal 10 April 1916 Asisten Residen berserta dengan pasukannya mencoba menangkap Entong Gendut yang disertai 40 orang pengikutnya.Namun tanpa diduga oleh polisi yang mengepungnya, Entong Gendut dan anak buahnya menyerang mereka sembari meneriakkan sabilillah. Para jawara yang berada di Tanjoeng Oost khususnya, dan Condet umumnya bersatu melawan para tuan tanah dan centeng-centengnya yang sering menindas rakyat.

Teriakan-teriakan “Allahu Akbar! Sabilullah! Gua kagak takut!” menggema ke seantero Condet, mewakili genderang perang jihad menegakkan amar makruf nahi munkar.

Entong Gendut, dibantu oleh beberapa tokoh lainnya seperti Maliki, Modin, Saiprin (Ngkong Prin/Babe Cungok), H. Amat Wahab, Said Kramat, Hadi, Dullah, dan orang-orang keturunan Arab dari Cawang seperti Ahmad Al Hadad, Said Mukhsin Alatas, dan Alaydrus, menentang tuan tanah dan Kompeni Belanda.

Hal ini membuat pihak Belanda marah dan mengerahkan bala bantuan. Pemberontakan berhasil ditumpas.Haji Entong Gendut gugur. Dia tersungkur tertembak ketika terpancing Belanda untuk menyeberangi kali Ciliwung. Konon, menurut cerita rakyat, kekebalan Entong Gendut akan luntur apabila terkena air sungai.

Demang Mester Cornelis yang kala itu memimpin penumpasan rakyat Condet, memerintahkan untuk membawa Entong Gendut ke Rumah Sakit Kwini. Namun, di tengah perjalanan dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Satu persatu para pengikutnya ditangkapi.

Setelah pemberontakan itu, tindakan tuan tanah dan penjajah Belanda terhadap rakyat Condet semakin kejam, sehingga tidak ada seorang pun orang dewasa yang berani tinggal di Condet. Mereka semua melarikan diri dari kejaran Belanda. Bahkan di jalan-jalan Batavia sampai tidak ada yang berani mengaku orang Condet. Situasi mencekam itu digambarkan dalam pantun rakyat Condet yang cukup terkenal :

 

Ular kadut mati di kobak

Burung betet makanin laron

Entong Gendut mati ditembak

Orang Condet pada buron

 

Oleh : Asep

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here