Generasi Pesona IndonesiaGenpi Jawa Tengah

Lebih Dekat dengan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Chapter Jateng

Kumpulan Para Pelancong ’Wani Tombok’

Kementerian Pariwisata membentuk Komunitas Generasi Pesona Indonesia (Genpi) di tujuh daerah, termasuk Jateng. Komunitas ini beranggotakan para pelancong yang suka mengunggah foto atau video selama plesiran di akun media sosial (medsos) yang dimiliki.

AJIE MAHENDRA

SAAT ini, populasi pelancong semakin bertambah. Buktinya, banyak pemilik akun media sosial yang mengunggah foto atau video seputar euforia saat melancong. Fenomena ini dinilai mampu menggeliatkan dunia pariwisata karena menjadi semacam promosi gratis. Peluang itu ditangkap Kementerian Pariwisata dengan membentuk Komunitas Generasi Pesona Indonesia (Genpi) di tujuh daerah, termasuk Jateng.

Genpi chapter Jateng berdiri 13 Maret 2017 di Kota Semarang. Genpi Jateng merupakan generasi keenam sebelum Jatim. Anggotanya adalah para pelancong yang punya perhatian khusus terhadap perkembangan potensi wista di daerah masing-masing.

Salah satu admin fans page Genpi Jateng, Ghozali Qodratullaha, menjelaskan, pihaknya punya misi untuk mempromosikan tempat-tempat wisata lewat dunia maya. Nyaris tidak ada potensi wisata yang luput di seluruh penjuru Jateng. Tidak hanya objek wisata saja, tapi juga hal-hal yang  berkaitan dengan pariwisata. Seperti kuliner, tempat nongkrong, dan lain sebagainya.

Dia mengakui, agenda kegiatan yang digelar Genpi Jateng masih minim. ”Karena umur kami masih beberapa bulan, jadi masih merintis dulu. Belum banyak kegiatan,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski begitu, karena komunitas yang diketuai Shafiq Pahlevi Lontoh ini dibentuk Kementerian Pariwista, mereka kerap dilibatkan dalam beberapa event penggiat wisata. Beberapa waktu lalu, Genpi Jateng ikut menggarap acara yang digeber Mas dan Mbak Jateng di Desa Wisata Ambarawa. Mereka diminta meliput acara tersebut untuk kemudian diviralkan.

Selain itu, Genpi Jateng yang dihuni 43 anggota ini masih sekadar saling sharing dan diskusi mengenai pariwista lewat grup medsos. Selain itu, mereka diminta untuk menge-like dan menge-share posting-an anggota lain yang diunggah di dunia maya. Entah berbentuk foto, video, atau artikel yang mengulas seputar pariwisata.

”Saat Genpi Jateng lahir, motonya ’one like one share’,” terangnya.

Genpi Jateng juga punya jargon unik, yakni ’Wani Tombok’ atau dalam bahasa Indonesia berarti berani tekor. Artinya, para anggota berani merogoh kocek pribadi demi melancong. Menikmati penjelajahan ke tempat-tempat wisata, baik yang mainstream, atau yang belum banyak dijamah publik.

Ghozali mengaku, meski anggotanya merupakan penggiat wisata, Genpi  Jateng masih sekadar menjadi penikmat pariwisata. Belum ada obsesi untuk mengkritisi soal destinasi wisata yang boleh dibilang semrawut. ’Kami masih sebatas mempromosikan wisata saja, belum mengkritisi,” tegasnya.

Dijelaskan, seluruh anggota komunitas ini tergolong kompak. Jiwa kekeluargaannya cukup tinggi. Jika ada anggota yang ingin melancong ke daerah lain, pasti disambut dan diantar jalan-jalan oleh anggota setempat. Tapi sayang, Genpi Jateng belum terbuka untuk menambah anggota.

”Soalnya kami ini direkrut langsung oleh Kementerian Pariwisata. Selain itu, untuk saat ini kami masih fokus memperkuat internal dulu. Belum ada niat menambah anggota,” tegasnya. (*/aro/ce1)
sumber : http://radarsemarang.com/2017/04/27/lebih-dekat-dengan-generasi-pesona-indonesia-genpi-chapter-jateng/

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close