Unlogic Teater 2015

Beautifulindonesia.news – Ajang Festival Teater Jakarta (FTJ) memasuki tahun ke 43,  dengan tema ‘’Transisi” yang ditulis menyerupai bahasa pemograman komputer ‘//Trans>sisi<.  Pertunjukkan selama 19 hari dari 26 grup teater akan meramaikan FTJ 2016 yang berlangsung 21 November – 9 Desember 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

“Festival Teater Jakarta adalah sebuah kapal tua pertunjukkan seni yang diadakan selama 19 hari, memasuki tahun ke-43 kami mempersembahkan sejumlah festival kesenian yang rutin di Jakarta,” Ujar Ketua Komite Teater Dewan Kesenia Jakarta (DKJ), Afrizal Malna saat konferensi pers di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat (17/11/2016).

Pada malam pembukaan 21 November nanti, akan berlangsung sejumlah seniman berjudul T.T.T (To The Tit) yang disutradai oleh Yustiansyah Lesmana, Dranaturg Darwis, dan Ensamble Tikoro. Pertunjukkan itu berlangsung satu panggung sekaligus instalasi bambu berbentuk paus raksasa berjudul The Levithan Lamalera karya Jonas Sestakresna.

Kelompok-kelompok teater yang tampil terbagi ke dalam empat sayap, yakni sayap utama, sayap klasik, sayap prespektif, dan sayap tamu. Di sayap tamu ada kelompok teater undangan yang dipilih oleh penyelenggara. Mereka adalah Jaring Project (Yogyakarta), Artery (Jakarta), Padepokan Seni Madura (Madura), dan Sena Didi Mime Indonesia (Jakarta).

Sementara, di sayap klasik ada pentas grup teater tradisional yang sampai sekarang masih bertahan di ibukota. Terpilih untuk tampil Lenong Denes Puja Betawi, Sahibul Hikayat Ita Saputra, Wayang Orang Bharata, dan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Sedangkan di sayap perspektif ada penampilan dua kelompok kolaborasi seniman yang tampil di malam pembukaan, dan penutupan dengan pementasan dari kelompok MuDa dari Jepang. 

“Ke-26 grup teater yang meramaikan FTJ merupakan terobosan baru bagi FTJ yang menampilkan kerja lintas media dan keberagaman sudut pandang baru di media teater,” tegas Afrizal. 

Tema “Transisi” sendiri dipilih sebagai upaya untuk melepas batas antara tradisi dan sisi modern. Dalam konteks sejarah seni pertunjukkan Indonesia, pelaku seni pertunjukan teater sering kali terjebak dalam pemilihan bentuk teater yang ekstrim. Ketika satu bentuk teater dipilih, maka mereka akan meninggalkan teater tradisional. Diharapkan dengan adanya FTJ ini, baik modern atau tradisional akan menghasilkan karya yang melepas batas dikotomi antara modern-tradisional.

Perhelatan FTJ 2016 dibuka pada 21 November dan berlangsung hingga 9 Desember di Teater Kecil dan dan Galeri Cipta II (TIM), Teater Luwes (IKJ) serta Gelanggang Remaja Jakarta Utara. Selain kompetisi, hajatan juga akan diisi dengan lokakarya Sensor Gerak, Fotografi Seni Pertunjukan, Jurnalisme Seni Pertunjukan, Riset Teater lewat Jalan Mural, pameran, diskusi arsip, kafe aktor, dan lain-lain. 

Penulis     : Herwindo

Editor       : Dede Murdy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here