Mastro_Top[eng_Malangan

Beautifulindonesia.news – Predikat sebagai pelaku dalam kasus 1965 melekat pada Djayadi, 84, maestro topeng malangan. Tanpa bukti hukum kuat ia dituduh terlibat aksi pemberontakan Partai Komunis Indonesia ( PKI ).

“Saya hanya seniman topeng, dan saya tidak ikut PKI, “ ujar Djayadi saat ditemui dirumahnya yang sungguh jauh dari kata nyaman.

Meski tidak mengalami penangkapan oleh aparat, namun Djayadi harus menghabiskan hari-harinya dengan bersembunyi di hutan lereng gunung Semeru selama berbulan – bulan hingga kondisi aman.

Sejak itu, perlahan nasibnya memburuk. Tiada lagi orderan untuk tampil dalam pertunjukan karena orang pun khawatir akan dituduh terlibat sebagai simpatisan PKI.

“Kalau jaman sekarang orang lebih suka dengan kesenian manggil demit, seperti kesurupan, makan beling, ngamuk daripada kesenian topeng malangan yang mengisahkan sosok Panji yang heroik, “ ujarnya dengan pancaran mata yang menyiratkan luka mendalam.

Hingga usia senjanya, nasib seniman berputra 3 ini semakin miris. Tetangga sekitarnya menunjukkan sikap ketidakpedulian akan kondisi kehidupan Djayadi yang harus menderita karena tuduhan tanpa fakta.

Kiprah seniman tradisional ini dihentikan secara paksa, hanya karena situasi politik semata.

Teks : siti masriyah ambara
Foto : Lutfi Pratomo

ceritadibaliklensa.com #documentary

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here