Budaya

Upacara Seba Baduy

lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung

Beautifulindonesia.Com – Selama ratusan tahun hingga sekarang, Upacara Seba terus dilaksanakan setahun sekali, berupa seserahan hasil bumi. Seserahan hasil bumi ini berupa Padi, Palawija, buah-buahan, gula aren dll. Dalam setiap upacara Seba warga Baduy memberikan pesan untuk selalu menjaga kelestarian alam, hutan dan lingkungan, pesan ini diberikan kepada Ibu Gede atau Ibu Bupati Kabupaten Lebak dan Bapak Gede atau Gubernur Provinsi Banten.

Masyarakat Baduy Percaya bahwa alam adalah satu titipan yang maha Kuasa untuk dilestarikan. Amanah dan kewajiban melestarikan alam jatuh pada masyarakat baduy. Oleh karenanya, semua sistem kehidupan Masayarakat Baduy berpedoman pada filosofi “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung” (Panjang tidak boleh /bisa dipotong, pendek tidak boleh/bisa disambung). Tidak terkecuali dalam sistem hukum adat baduy.

Upacara Seba Baduy ini biasanya diikuti oleh seluruh warga Baduy dalam, warga yang ikut bisa mencapai 2000 orang berbondong-bondong membawa hasil bumi dengan berjlan kaki, pertemuan pertama dengan Ibu Gede atau Bupati Lebak, pertemuan kedua dengan Bapak Gede atau Gubernur Provinsi Banten. Biasanya pertemuan pertama bersama Ibu Gede dengan Babacakan Jeung Urang baduy (makan bersama warga baduy) sapeuting jeung urang baduy (semalam bersama warga baduy) dengan dimeriahkan dengan menampilkan berbagai hiburan yang menarik perpaduan seni budaya warga baduy.

Hari keduanya warga baduy masih dalam upacara seba taunan ini, berlanjut menuju ke Pendopo Gubernur Banten. Pertemuan kedua ini adalah acara puncak warga baduy, puncak acara ini biasa diisi oleh warga baduy dengan berbaur bersama wrga luar baduy. Masyarakat umum pun bebas bertanya-tanya langsung berinteraksi dengan warga baduy asli mengenai kehidupan warga baduy dilingkungannya.

Keteguhan masayarakat Baduy dalam mengikuti adat istiadatnya memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana manusia menghargai dan menghormati alam sekitar, diantaranya prinsip hidup masyarakat baduy tercermin dalam petuah-petuahnya.

Gunung tak diperkenankan dilebur, Lembah tak diperkenankan dirusak, Larangan tak boleh dirubah, Panjang tak boleh dipotong, Pendek tak boleh disambung, Yang bukan harus ditolak yang jangan harus dilarang yang benar haruslah dibenarkan.  (Awadudin Angkrih)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close