Beautifulindonesia.news – “Beli rume di Manggarai, tempatnya dulu sarang narkoba. Sesame agama kite saling menghargai, kita jangan sampai diadu domba.” Sebait pantun tersebut dilontarkan Zahrudin Ali Al Batawi, penulis buku 1500 Pantun Betawi.

Saat ditemui di rumahnya di Gang Damiri, Condet Batuampar, Kramat Jati, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu, ayah dua anak yang dikenal sebagai raja pantun itu menceritakan pengalamannya menggeluti dunia pantun.

“Secara resmi 21 tahun sudah saya mantun. Sisanya ya iseng-iseng aja. Soal buku pantun, semuanya bermula dari anak saya,” ujar pria yang akrab disapa Bang Udin.

Namg Udin mengisahkan, pada 2010, ia mengantar anak bungsunya ke Perpustakaan Nasional. Saat itu, ia turut melihat-lihat koleksi yang di perpustakaan terlengkap tersebut. Namun, kegelisahan muncul di hati Bang Udin. Pasalnya tak ada satu pun buku yang berisi kumpulan pantun Betawi.

Berbekal kegelisahan dipadu tekad melestarikan budaya Betawi, Bang Udin mulai mengumpulkan, membuat dan menuliskan kembali ratusan pantun yang ada di otaknya. Beragam tema pantun mulai dari pantun kematian, pantun menjenguk orang sakit, pantun suami-istri, dan pantun kehidupan dirangkum ke dalam buku tersebut.

“Pergi ke pasar pake baju katun, lewat pasar ikan jalannye tanah. Dulu orang kite ketemu pasti berpantun, mari lestarikan jangan sampe punah,” lanjut Bang Udin.

Sosialisasi Pantun

Bang Udin menjelaskan, pantun khas Betawi memiliki perbedaan signifikan dengan pantun di daerah lain, misalnya Melayu. Meskipun kebudayaan Betawi berakar dari budaya Melayu, pantun yang berkembang belakangan tetap berbeda. Dikatakannya, pantun Betawi memiliki sifat penegasan atas maksud dan tujuan ketimbang pantun Melayu.

Karena itu ia bertekad mensosialisasikan pantun Betawi dengan beragam cara. Hal ini, antara lain, dengan terus membuat pantun dan ditampilkannya pada saat upacara Palang Pintu, sebuah upacara khas Betawi yang digelar sebelum pernikahan. Dengan demikian, ia berharap buah kebudayaan tanah kelahirannya tersebut dapat tetap dinikmati dan menjadi ilham bagi masyarakat, terutama kaum muda.

Pasalnya, ia prihatin dengan derasnya arus kebudayaan asing yang negatif bagi muda-mudi di Indonesia termasuk anak-anaknya sendiri. Untuk itu, meski tugas berat menantinya, ia tetap bertekad mewujudkan cita-citanya, membawa pantun tak hanya primadona di Jakarta saja, namun juga di dunia.

“Membeli ikan ikan tenggiri, Kaga dijage dimakan kucing. Kita harus idolakan budaya sendiri, jangan malah bangge dengan budaye asing.”

“Buaya mencari makan, melate di waktu pagi. Budaya harus dipertahankan, kalau bukan kite mau siape lagi,” lanjutnya sambil tersenyum.

Meski telah menghasilkan tiga buku pantun – 999 Pantun Betawi, 1500 Pantun Betawi, dan Pantun Palang Pintu, lelaki kelahiran Tebet, 1963 ini masih kerap galau. Karena, belum ada yang memberikan kritik terhadap buku pantun yang ditulisnya.

“Saye berharap ada masukan dari pihak-pihak yang mengerti supaya pantun saya lebih berkualitas,” uajrnya penuh harap seaya menutup obrolan dengan Betawi Kita.

Asep Setiawan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here